Sunindo.id – Boneka karakter hewan langka hasil inovasi mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) kini menjadi media edukasi konservasi yang menarik dan interaktif. Proyek ini menghadirkan tiga karakter utama yaitu Ates (Owa Jawa), Lagus (Kanguru Pohon), dan Thera (Harimau Sumatera) yang dipadukan dengan teknologi Augmented Reality (AR). Melalui perpaduan seni dan teknologi, boneka edukasi ini bertujuan meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap pelestarian satwa endemik Indonesia secara lebih efektif dan menyenangkan.
Inisiatif pengembangan boneka edukasi ini merupakan kolaborasi multidisiplin antar Fakultas Kehutanan, Teknik, Ilmu Budaya, dan FMIPA UGM. Dalam proyek tersebut, mahasiswa tidak hanya merancang boneka dengan detail biologis tinggi, namun juga mengintegrasikan fitur AR yang memungkinkan pengguna mengakses materi edukasi interaktif melalui perangkat digital. Ketua tim pengembang dari Fakultas Kehutanan UGM, Dr. Ir. Rahayu, menyatakan, “Kami ingin menghadirkan media yang tidak hanya menghibur, tetapi juga memberikan informasi ilmiah akurat mengenai kondisi konservasi fauna langka yang terancam punah di habitat aslinya.”
Keunikan boneka edukasi ini terletak pada keberadaan tiga karakter fauna langka Indonesia yang jarang dijadikan fokus edukasi sebelumnya. Owa Jawa (Hylobates moloch), yang dikenal sebagai primata endemik dengan populasi sangat terbatas, diwakili oleh boneka Ates yang mengajak pengguna memahami pentingnya habitat hutan Jawa. Sementara Lagus, boneka Kanguru Pohon (Dendrolagus pulcherrimus), menghadirkan cerita konservasi satwa langka dari Papua yang masih minim publikasi. Terakhir, Thera sebagai representasi Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) menyuguhkan data tentang ancaman perburuan dan hilangnya ruang hidup harimau ikonik tersebut. Setiap boneka dilengkapi dengan aplikasi AR yang menampilkan informasi habitat, status konservasi, dan upaya pelestarian yang sedang berjalan.
Selain proyek UGM, terdapat contoh boneka maskot satwa langka lain yang cukup dikenal, yaitu boneka burung Maleo Papua yang diproduksi oleh RoesOne Craft. Boneka Maleo ini berperan sebagai simbol pelestarian dan kampanye lingkungan yang didukung oleh berbagai lembaga konservasi dan pemerintah daerah. “Maskot burung Maleo yang kami produksi bukan hanya sebagai suvenir, tapi juga alat edukasi yang mendorong masyarakat untuk menjaga spesies langka ini,” ungkap pemilik RoesOne Craft, Yohana Sutrisno. Boneka ini kerap digunakan dalam berbagai kampanye dunia konservasi serta event pariwisata yang mengangkat tema fauna Nusantara.
Keberadaan boneka kustom berbasis satwa langka seperti ini semakin membuktikan efektivitas media edukasi yang menggabungkan unsur seni, teknologi, dan budaya lokal. Di Indonesia, di mana kesadaran konservasi masih perlu ditingkatkan, pendekatan interaktif seperti ini mampu menjangkau berbagai kalangan, terutama anak-anak dan pelajar. Boneka yang mudah diakses secara daring maupun offline ini juga dapat memperluas jangkauan penyebaran pesan pelestarian, sekaligus menjadi sarana komunikasi lingkungan yang humanis dan atraktif.
Pentingnya pengenalan satwa langka melalui boneka edukasi tidak hanya berdampak pada peningkatan pengetahuan, tetapi juga memperkuat ikatan emosional masyarakat dengan fauna asli Nusantara. Dengan melibatkan mahasiswa sebagai agen perubahan, program ini juga menegaskan peran institusi pendidikan dalam menjaga keberlanjutan lingkungan. “Melalui proyek ini, kami berharap generasi muda tidak hanya paham secara teori, tapi juga merasa memiliki tanggung jawab menjaga kelestarian satwa langka Indonesia,” tambah Dr. Rahayu.
Penerapan teknologi AR yang diintegrasikan dalam boneka edukasi membuka peluang baru dalam metode pembelajaran konservasi. Teknologi ini memungkinkan pengguna menyaksikan visualisasi 3D habitat dan perilaku satwa secara real time, yang sebelumnya sulit didapatkan lewat media konvensional. Dengan demikian, edukasi konservasi menjadi lebih menarik dan mudah dipahami, terutama di era digital saat ini. Selain itu, potensi pemasaran boneka ini juga menjanjikan bagi pengembangan ekonomi kreatif berbasis edukasi dan pelestarian lingkungan.
| Karakter Boneka | Spesies | Habitat | Fitur Edukasi AR | Status Konservasi |
|---|---|---|---|---|
| Ates | Owa Jawa (Hylobates moloch) | Hutan Jawa Tengah & Jawa Barat | Visualisasi habitat, suara owa, info ancaman pembalakan | Sangat Terancam Punah |
| Lagus | Kanguru Pohon Papua (Dendrolagus pulcherrimus) | Hutan Pegunungan Papua | Interaksi 3D, penjelasan ekosistem hutan pegunungan | Terancam |
| Thera | Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) | Hutan Sumatera | Animasi perilaku, data perburuan, upaya konservasi | Sangat Terancam Punah |
Inovasi boneka edukasi fauna langka ini menjadi contoh nyata bagaimana teknologi dan kreativitas dapat bersinergi untuk mendukung pelestarian keanekaragaman hayati Indonesia. Kolaborasi lintas fakultas di UGM menjadikan proyek ini bukan hanya produk seni, tetapi juga alat ilmiah yang dapat digunakan di sekolah, museum, dan pusat konservasi. Harapannya, ke depan inovasi ini dapat terus dikembangkan dan diproduksi massal agar semakin banyak masyarakat yang teredukasi dan peduli terhadap nasib fauna endemik Indonesia.
Dengan meningkatnya kesadaran lewat media boneka interaktif, diharapkan angka ancaman terhadap satwa langka dapat ditekan melalui dukungan aktif masyarakat. Peran teknologi AR juga membuka cakrawala baru dalam edukasi lingkungan yang lebih inklusif dan menyenangkan. Langkah selanjutnya adalah memperluas kolaborasi dengan produsen boneka dan lembaga konservasi agar produk ini dapat tersebar luas, sekaligus memperkuat kampanye pelestarian secara nasional.
Boneka karakter hewan langka berbasis teknologi AR yang dikembangkan mahasiswa UGM membuktikan bahwa inovasi edukasi konservasi dapat menjangkau khalayak luas dengan cara yang kreatif dan efektif. Melalui pengenalan fauna endemik seperti Owa Jawa, Kanguru Pohon Papua, dan Harimau Sumatera, masyarakat diajak lebih peka terhadap pentingnya menjaga keanekaragaman hayati Indonesia demi masa depan yang lestari.

